Suatu hari ada orang yang bertanya pada saya, apakah benar menanam pohon kelapa di depan rumah bisa kapongor. Apa itu kapongor? Tanya saya memancing, “Dimarahi Bethara,” katanya.
Saya katakan, Bethara tak pernah marah, tetapi kapongor itu betul. Nanti kalau kelapanya berbuah lalu jatuh dan menimpa anak-anak yang masih kecil, kan berbahaya.
Di hari yang lain, seseorang bertanya, apa berani menebang pohon kepuh di setra. Pohon itu sudah tua, kalau dahannya rontok berbahaya buat orang yang ada di bawahnya. Lagi pula di setra akan dibangun balai panjang untuk “mesayuban” dari terik matahari atau hujan. Saya jawab: “Potong saja.” Lalu saya ditanya lagi, apa tidak kapongor? Saya katakan; “Tidak”. Dan betul setelah bertahun-tahun tak ada yang berani menebang pohon kepuh yang dibilang keramat itu, sekarang sudah lenyap. Setra jadi asri dan ada bale “mesayuban”.
Ada lagi yang unik. Seseorang yang baru menjadi nenek konsultasi ke saya, dia mau ke balian. Dia ingin bertanya, siapa nama cucunya yang baik agar anak itu tumbuh sehat dan cerdas di masa depan. Saya tanya dulu, apa bapak dan ibunya sudah memberi nama pada anaknya itu? Sudah, katanya. Nama pemberian orang tuanya cukup panjang: Ni Putu Juniwati Putri Dewi. Nenek itu khawatir nama panjang itu akan membuat keluarga itu kepongor, karena nama-nama leluhurnya hanyalah Wayan Sobret, Ketut Manyong, Nengah Keplug dan sebagainya.
Saya katakan kepada nenek itu: “Jangan sekali-sekali menanyakan nama ke balian, nanti nama itu diganti atau dikatakan jelek. Ini nama bagus sekali, anak itu akan cerdas.” Ketika sang nenek diam, saya katakan lagi; “Kalau tanya ke balian paling disebutkan anak itu keberatan nama, lalu sakit-sakitan. Supaya sehat namanya diganti menjadi Putu Lenjog, malah nanti anak itu jadi malu.”
Kisah-kisah seperti ini banyak sekali terjadi di pedesaan. malah ada yang sampai bentrok dalam kekeluargaan. Misalnya soal kawitan, dan ini cerita nyata. Sebuah keluarga ada anaknya yang sakit gatal-gatal, lama tak sembuh. Ditanyakan ke balian, eh, ternyata salah kawitan. Selama ini keluarga besarnya itu termasuk soroh Pasek Bendesa. Menurut balian, seharusnya Pasek Kayu Selem. Keluarga itu mantap pindah kawitan, namun keluarganya yang lain tak mau. Alasannya juga sudah menanyakan ke balian yang lain. Apa yang terjadi? Karena takut kapongor terus-menerus -- yang ditandai dengan sakit gatal itu -- keluarga yang anaknya sakit itu pindah kawitan. Ya, akhirnya pecah dadia, pecah panti dan seterusnya.
Saya mengenal keluarga besar itu dan saya tentu tak mau mencampuri urusan soroh berdasarkan omongan balian. Apalagi seumur-umur saya tak pernah bersinggungan dengan balian. Tapi saya siap menolong keluarga itu.
Pertolongan yang pertama saya lakukan, bukan soal kemana mencari soroh yang benar. Tetapi mengajak anak yang sakit gatal itu ke dokter kulit di Denpasar. Ternyata anak itu mengidap penyakit kulit akibat virus yang memang harus diobati secara benar dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Akhirnya sakitnya sembuh. Setelah anak itu sehat, kepada keluarga besar itu saya minta mempelajari silsilah kawitan berdasarkan babad yang ada. Nah, terserah mereka untuk memilih, mau ke mana. Yang jelas, tak ada urusan kapongor di sini, yang ada urusan virus yang menyerang kulit yang tak bisa disembuhkan oleh obat dari Puskesmas atau loloh dari balian.
Belum lama ini ada keluarga yang juga “minta izin” ke saya, apa baik menanyakan ke balian, apakah kakek dan neneknya yang baru diaben sudah mendapat tempat yang “pas” di sana. Saya tidak heran soal ini, sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun. Saya tanya alasannya, meski pun saya sudah bisa menebaknya. “Ya, siapa tahu, banten ngabennya kurang ini kurang itu, atau salah runtutan upacaranya,” katanya. Saya katakan, perbuatan menanyakan ke balian itu justru melanggar ajaran agama. Pertama, karena kita menjadi tidak yakin setiap melaksanakan yadnya. Padahal syarat dari yadnya adalah keyakinan. Kedua, kita tidak tulus menyerahkan urusan ritual kepada Sulinggih yang muput, padahal ketulusan ini utama. Jangan pernah ragu dengan Sulinggih begitu kita memilih beliau untuk muput. Ketiga, tak ada urusan Hyang Pitara atau apapun sebutannya setelah diaben menjadi marah atau tak mendapat tempat yang “pas” hanya gara-gara banten. Keempat, siapa balian itu? Kalau balian itu tak pernah mempelajari tingkat pengabenan, omongannya bisa jadi ngawur.
Masyarakat Bali -- meskipun tidak begitu banyak lagi seperti dulu -- masih percaya pada balian jenis ini. Maksudnya balian untuk meluasang, balian baas pipis, balian dasaran, atau sebutan lainnya. Yakni balian yang entah dengan teknik atau ilmu yang beragam, dipercaya bisa menjadi perantara dari roh orang yang sudah tiada. Atau kalau tidak “kemasukan roh” seolah-olah tahu dan bisa menebak segala sumber yang jadi pangkah masalah “pasiennya”. Dari sinilah kemudian muncul istilah kapongor karena berbagai hal. Kapongor salah upacara, kapongor salah banten, kapongor salah memberi nama dan sebagainya.
Anehnya, jarang sekali balian berkata: “Kamu kapongor oleh Hyang Pitara ini karena suka minum arak, suka berjudi, suka metajen, suka selingkuh, suka narkoba, suka memirat.” Kalau ada balian seperti itu, mungkin baik juga, masyarakat Bali bisa lebih sejahtra.
(Editorial Majalah Hindu Raditya, edisi Juni 2009)
Kamis, Juni 04, 2009
Kapongor
Kamis, September 04, 2008
Kebangkitan Majapahit, yang Mana?
Bulan September ini, begitu menurut rencana, salah satu stasiun televisi nasional mulai memutar film serial kolosal “Laksamana Cheng Ho”. Pemirsanya diperkirakan jutaan orang. Film seri ini diyakini memikat. Pertama karena jalan ceritanya, kedua karena pemainnya mantan menteri. Yusril Ichsa Mahendra menjadi Laksamana Cheng Ho. Syaifulah Yusuf menjadi Raja Majapahit. Ditambah lagi dengan pemain “kelas atas” seperti Nurul Arifin, Slamet Rahardjo dan lain-lainnya.
Umat Islam menonton tayangan ini dalam suasana bulan Ramadhan (puasa) dan menyusul Hari Raya Lebaran. Saya yakin sekali, umat Hindu pasti senang pula menonton tayangan ini. Padahal, jelas sekali missi film itu sebagai film dakwah untuk kaum Muslim.
Penonton umat Hindu, kalau mereka kritis, akan tahu bagaimana mudahnya penyebaran Islam di tanah Majapahit yang mayoritas waktu itu berpenduduk Hindu. Dalam film ini digambarkan betapa buruknya pemerintahan Majapahit, penuh intrik dan perang antar kerajaan. Lalu datanglah Laksamana Cheng Ho dengan tentaranya yang banyak, begitu mudah “menguasasi” Majapahit dan menyebarkan agama Islam. Cheng Ho memang beragama Islam meskipun dia orang China. Sampai sekarang Masjid Cheng Ho di Surabaya menjadi tempat yang ramai dikunjungi orang, begitu pula peninggalan laksamana ini di berbagai tempat.
Para pemuka agama Hindu dan tokoh-tokoh masyarakat sering sekali berkata: “kebangkitan Majapahit”. Kata-kata ini sering diucapkan jika melihat perkembangan umat Hindu membaik di negeri ini. Secara tidak sadar sering sekali terdengar ucapan yang begitu menyanjung Kerajaan Majapahit, sebagai sebuah kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara. Kerajaan yang menjadikan Hindu sebagai agama negara.
Namun Majapahit yang mana? Pada era siapa? Mungkin pada era Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Atau mungkin sebelum itu, ketika para pujangga Hindu asyik berkarya karena mereka memang dijadikan “pengabih” raja.
Setelah era itu, proses kehancuran terjadi. Para pandita Hindu mulai terpecah. Mereka yang berada di sekitar raja hanya memberikan laporan ARS (asal raja senang), sementara yang di luar lingkaran kerajaan berada di gunung-gunung atau goa, tak punya dana untuk memberikan akses pembelajaran kepada masyarakat. Yang terjadi adalah pemahaman masyarakat akan filsafat agama berkurang, sementara beban ritual yang dihadapi membuat mereka semakin miskin. Pada proses selanjutnya, begitu datang agama baru yang menawarkan ritual lebih sederhana, rakyat pun mudah pindah agama. Apalagi rakyat sudah muak dengan perebutan kekuasaan yang melibatkan kerabat raja.
Yang terjadi sekarang ini pada umat Hindu di Indonesia, khususnya Bali, justru contoh Majapahit menjelang sandhyakala ini. Bukan Majapahit di saat keemasannya.
Lihatlah situasi di Bali. Terjadi kubu-kubu antar Sulinggih. Kalau kelompok Sulinggih dekat dengan pemerintah (bupati atau gubernur) maka kelompok itu saja yang didengar oleh pemerintah. Ritual besar di Pura Besakih, karena panitianya (Sang Yajamana) adalah pemerintah, maka Sulinggih yang pro pemerintah saja yang memberikan puja mantra. Sulinggih lain terpinggirkan, karena itu muncul istilah Sarwa Sadhaka, Sulinggih dari berbagai wangsa.
Parisada yang isinya “paruman Sulinggih” justru tidak dipakai. Bertahun-tahun Parisada Provinsi Bali tidak mendapatkan dana dari Pemerintah Provinsi Bali. Padahal di daerah lain, milyaran rupiah dana disalurkan oleh pemerintah kepada umat Hindu setempat lewat Parisada.
Jadi, di kalangan aparat pemerintah, ada rasa “suka dan tak suka” dengan Sulinggih tertentu. Ini membuat pembinaan kepada masyarakat Hindu menjadi lemah karena tiadanya dana. Sudah seringkali ada keluhan di Bali, guru-guru Islam diangkat lebih banyak dari guru Hindu. Orang Hindu diminta untuk “toleransi tinggi” sementara itu kemiskinan kian menjadi-jadi dan perpindahan agama dari Hindu ke non-Hindu semakin membesar.
Lalu, Majapahit yang mana yang perlu kita jadikan sesuluh agar pas untuk menggambarkan kebangkitan Hindu, kalau memang orang Hindu pada bangkit? Tentu bukan masa-masa Sandhyakalaning Majapahit. Ini justru contoh yang buruk.
Kebetulan pula mulai bulan ini (persisnya sejak 28 Agustus lalu), Bali punya gubernur baru, Made Mangku Pastika. Saya tak tahu apakah Mangku Pastika akan mengubah kebijaksanaannya dalam memandang Sulinggih di Bali. Apakah Mangku Pastika akan tetap “menutup pintu” kepada Parisada Provinsi Bali, seperti gubernur sebelumnya. Melihat latar belakang pendidikan dan pengalaman sosial Mangku Pastika, sepertinya ada perubahan. Pertama, Mangku Pastika lama di luar Bali, tentu ia bisa melihat permasalahan Bali lebih jernih tanpa kena virus perpecahan. Kedua, sampai saat ini, secara resmi Mangku Pastika masih sebagai anggota Sabha Walaka PHDI Pusat yang tentu harus mengayomi dan berpihak ke Parisada Provinsi Bali. Ketiga, tak mungkin intelektual tangguh seperti Mangku Pastika akan mengenang dan mencontoh Majapahit pada era sandhyakala. Keempat, janji Mangku Pastika saat kampanye adalah memberantas kemiskinan dan menumbuhkan lapangan kerja, tentu ini berarti tidak akan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pendatang untuk “mendapatkan pekerjaan” di Bali.
Kita tak tahu, apa yang akan terjadi di Bali, apakah ada perubahan atau tidak. Apakah Bali akan menjadi “majapahit kedua” di mana penduduknya akan mudah pindah agama, dan menjadikan komposisi penduduk Bali semakin heterogen. Atau pemeluk Hindu masih dipertahankan sebagai mayoritas dan Bali masih menjadi pulau seribu pura?
