Tampilkan postingan dengan label Editorial Majalah Raditya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Editorial Majalah Raditya. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juni 04, 2009

Kapongor

Suatu hari ada orang yang bertanya pada saya, apakah benar menanam pohon kelapa di depan rumah bisa kapongor. Apa itu kapongor? Tanya saya memancing, “Dimarahi Bethara,” katanya.

Saya katakan, Bethara tak pernah marah, tetapi kapongor itu betul. Nanti kalau kelapanya berbuah lalu jatuh dan menimpa anak-anak yang masih kecil, kan berbahaya.


Di hari yang lain, seseorang bertanya, apa berani menebang pohon kepuh di setra. Pohon itu sudah tua, kalau dahannya rontok berbahaya buat orang yang ada di bawahnya. Lagi pula di setra akan dibangun balai panjang untuk “mesayuban” dari terik matahari atau hujan. Saya jawab: “Potong saja.” Lalu saya ditanya lagi, apa tidak kapongor? Saya katakan; “Tidak”. Dan betul setelah bertahun-tahun tak ada yang berani menebang pohon kepuh yang dibilang keramat itu, sekarang sudah lenyap. Setra jadi asri dan ada bale “mesayuban”.

Ada lagi yang unik. Seseorang yang baru menjadi nenek konsultasi ke saya, dia mau ke balian. Dia ingin bertanya, siapa nama cucunya yang baik agar anak itu tumbuh sehat dan cerdas di masa depan. Saya tanya dulu, apa bapak dan ibunya sudah memberi nama pada anaknya itu? Sudah, katanya. Nama pemberian orang tuanya cukup panjang: Ni Putu Juniwati Putri Dewi. Nenek itu khawatir nama panjang itu akan membuat keluarga itu kepongor, karena nama-nama leluhurnya hanyalah Wayan Sobret, Ketut Manyong, Nengah Keplug dan sebagainya.

Saya katakan kepada nenek itu: “Jangan sekali-sekali menanyakan nama ke balian, nanti nama itu diganti atau dikatakan jelek. Ini nama bagus sekali, anak itu akan cerdas.” Ketika sang nenek diam, saya katakan lagi; “Kalau tanya ke balian paling disebutkan anak itu keberatan nama, lalu sakit-sakitan. Supaya sehat namanya diganti menjadi Putu Lenjog, malah nanti anak itu jadi malu.”

Kisah-kisah seperti ini banyak sekali terjadi di pedesaan. malah ada yang sampai bentrok dalam kekeluargaan. Misalnya soal kawitan, dan ini cerita nyata. Sebuah keluarga ada anaknya yang sakit gatal-gatal, lama tak sembuh. Ditanyakan ke balian, eh, ternyata salah kawitan. Selama ini keluarga besarnya itu termasuk soroh Pasek Bendesa. Menurut balian, seharusnya Pasek Kayu Selem. Keluarga itu mantap pindah kawitan, namun keluarganya yang lain tak mau. Alasannya juga sudah menanyakan ke balian yang lain. Apa yang terjadi? Karena takut kapongor terus-menerus -- yang ditandai dengan sakit gatal itu -- keluarga yang anaknya sakit itu pindah kawitan. Ya, akhirnya pecah dadia, pecah panti dan seterusnya.

Saya mengenal keluarga besar itu dan saya tentu tak mau mencampuri urusan soroh berdasarkan omongan balian. Apalagi seumur-umur saya tak pernah bersinggungan dengan balian. Tapi saya siap menolong keluarga itu.

Pertolongan yang pertama saya lakukan, bukan soal kemana mencari soroh yang benar. Tetapi mengajak anak yang sakit gatal itu ke dokter kulit di Denpasar. Ternyata anak itu mengidap penyakit kulit akibat virus yang memang harus diobati secara benar dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Akhirnya sakitnya sembuh. Setelah anak itu sehat, kepada keluarga besar itu saya minta mempelajari silsilah kawitan berdasarkan babad yang ada. Nah, terserah mereka untuk memilih, mau ke mana. Yang jelas, tak ada urusan kapongor di sini, yang ada urusan virus yang menyerang kulit yang tak bisa disembuhkan oleh obat dari Puskesmas atau loloh dari balian.

Belum lama ini ada keluarga yang juga “minta izin” ke saya, apa baik menanyakan ke balian, apakah kakek dan neneknya yang baru diaben sudah mendapat tempat yang “pas” di sana. Saya tidak heran soal ini, sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun. Saya tanya alasannya, meski pun saya sudah bisa menebaknya. “Ya, siapa tahu, banten ngabennya kurang ini kurang itu, atau salah runtutan upacaranya,” katanya. Saya katakan, perbuatan menanyakan ke balian itu justru melanggar ajaran agama. Pertama, karena kita menjadi tidak yakin setiap melaksanakan yadnya. Padahal syarat dari yadnya adalah keyakinan. Kedua, kita tidak tulus menyerahkan urusan ritual kepada Sulinggih yang muput, padahal ketulusan ini utama. Jangan pernah ragu dengan Sulinggih begitu kita memilih beliau untuk muput. Ketiga, tak ada urusan Hyang Pitara atau apapun sebutannya setelah diaben menjadi marah atau tak mendapat tempat yang “pas” hanya gara-gara banten. Keempat, siapa balian itu? Kalau balian itu tak pernah mempelajari tingkat pengabenan, omongannya bisa jadi ngawur.

Masyarakat Bali -- meskipun tidak begitu banyak lagi seperti dulu -- masih percaya pada balian jenis ini. Maksudnya balian untuk meluasang, balian baas pipis, balian dasaran, atau sebutan lainnya. Yakni balian yang entah dengan teknik atau ilmu yang beragam, dipercaya bisa menjadi perantara dari roh orang yang sudah tiada. Atau kalau tidak “kemasukan roh” seolah-olah tahu dan bisa menebak segala sumber yang jadi pangkah masalah “pasiennya”. Dari sinilah kemudian muncul istilah kapongor karena berbagai hal. Kapongor salah upacara, kapongor salah banten, kapongor salah memberi nama dan sebagainya.

Anehnya, jarang sekali balian berkata: “Kamu kapongor oleh Hyang Pitara ini karena suka minum arak, suka berjudi, suka metajen, suka selingkuh, suka narkoba, suka memirat.” Kalau ada balian seperti itu, mungkin baik juga, masyarakat Bali bisa lebih sejahtra.

(Editorial Majalah Hindu Raditya, edisi Juni 2009)

Selengkapnya

Kamis, September 04, 2008

Kebangkitan Majapahit, yang Mana?

Bulan September ini, begitu menurut rencana, salah satu stasiun televisi nasional mulai memutar film serial kolosal “Laksamana Cheng Ho”. Pemirsanya diperkirakan jutaan orang. Film seri ini diyakini memikat. Pertama karena jalan ceritanya, kedua karena pemainnya mantan menteri. Yusril Ichsa Mahendra menjadi Laksamana Cheng Ho. Syaifulah Yusuf menjadi Raja Majapahit. Ditambah lagi dengan pemain “kelas atas” seperti Nurul Arifin, Slamet Rahardjo dan lain-lainnya.

Umat Islam menonton tayangan ini dalam suasana bulan Ra­madhan (puasa) dan menyusul Hari Raya Lebaran. Saya yakin se­kali, umat Hindu pasti senang pula menonton tayangan ini. Padahal, jelas sekali missi film itu sebagai film dakwah untuk kaum Muslim.

Penonton umat Hindu, kalau mereka kritis, akan tahu bagai­mana mudahnya penyebaran Islam di tanah Majapahit yang mayo­­ritas waktu itu berpenduduk Hindu. Dalam film ini digam­barkan betapa buruknya pemerintahan Majapahit, penuh intrik dan perang antar kerajaan. Lalu datanglah Laksamana Cheng Ho dengan tentaranya yang banyak, begitu mudah “mengua­sasi” Majapahit dan menyebarkan agama Islam. Cheng Ho me­mang beragama Islam meskipun dia orang China. Sampai seka­rang Masjid Cheng Ho di Surabaya menjadi tempat yang ramai di­kun­jungi orang, begitu pula peninggalan laksamana ini di ber­bagai tempat.

Para pemuka agama Hindu dan tokoh-tokoh masyarakat se­ring sekali berkata: “kebangkitan Majapahit”. Kata-kata ini sering diucap­kan jika melihat perkembangan umat Hindu membaik di ne­geri ini. Secara tidak sadar sering sekali terdengar ucapan yang begitu menyanjung Kerajaan Majapahit, sebagai sebuah kera­jaan besar yang pernah ada di Nusantara. Kerajaan yang menjadikan Hindu sebagai agama negara.
Namun Majapahit yang mana? Pada era siapa? Mungkin pada era Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Atau mungkin sebelum itu, ketika para pujangga Hindu asyik berkarya ka­rena mereka memang dijadikan “pengabih” raja.

Setelah era itu, proses kehancuran terjadi. Para pandita Hin­du mulai terpecah. Mereka yang berada di sekitar raja hanya mem­berikan laporan ARS (asal raja senang), sementara yang di luar lingkaran kerajaan berada di gunung-gunung atau goa, tak pu­nya dana untuk memberikan akses pembelajaran kepada masya­rakat. Yang terjadi adalah pemahaman masyarakat akan filsa­fat agama berkurang, sementara beban ritual yang dihadapi mem­buat mereka semakin miskin. Pada proses selanjutnya, begitu da­tang agama baru yang menawarkan ritual lebih sederhana, rakyat pun mudah pindah agama. Apalagi rakyat sudah muak deng­­an perebutan kekuasaan yang melibatkan kerabat raja.

Yang terjadi sekarang ini pada umat Hindu di Indonesia, khu­sus­nya Bali, justru contoh Majapahit menjelang san­dhya­kala ini. Bukan Majapahit di saat keemasannya.

Lihatlah situasi di Bali. Terjadi kubu-kubu antar Sulinggih. Ka­lau kelompok Sulinggih dekat dengan pemerintah (bupati atau gu­ber­nur) maka kelompok itu saja yang didengar oleh pemerin­tah. Ritual besar di Pura Besakih, karena panitianya (Sang Yajama­na) adalah pemerintah, maka Sulinggih yang pro pemerintah sa­ja yang memberikan puja mantra. Sulinggih lain terpinggirkan, ka­re­na itu muncul istilah Sarwa Sadhaka, Sulinggih dari berbagai wangsa.

Parisada yang isinya “paruman Sulinggih” justru tidak dipa­kai. Bertahun-tahun Parisada Provinsi Bali tidak menda­patkan da­na dari Pemerintah Provinsi Bali. Padahal di daerah lain, milyar­an rupiah dana disalurkan oleh pemerintah kepada umat Hindu se­tem­pat lewat Parisada.

Jadi, di kalangan aparat pemerintah, ada rasa “suka dan tak su­ka” dengan Sulinggih tertentu. Ini membuat pembinaan kepada ma­sya­rakat Hindu menjadi lemah karena tiadanya dana. Sudah se­ring­kali ada keluhan di Bali, guru-guru Islam diangkat lebih ba­nyak dari guru Hindu. Orang Hindu diminta untuk “toleransi ting­gi” sementara itu kemiskinan kian menjadi-jadi dan perpin­dahan agama dari Hindu ke non-Hindu semakin membesar.

Lalu, Majapahit yang mana yang perlu kita jadikan sesuluh agar pas untuk menggambarkan kebangkitan Hindu, kalau me­mang orang Hindu pada bangkit? Tentu bukan masa-masa Sandhya­kalaning Majapahit. Ini justru contoh yang buruk.

Kebetulan pula mulai bulan ini (persisnya sejak 28 Agustus lalu), Bali punya gubernur baru, Made Mangku Pastika. Saya tak tahu apakah Mangku Pastika akan mengubah kebijak­sanaan­nya dalam memandang Sulinggih di Bali. Apakah Mangku Pas­tika akan tetap “menutup pintu” kepada Parisada Provinsi Bali, se­per­ti gubernur sebelumnya. Melihat latar belakang pendidikan dan pengalaman sosial Mangku Pastika, sepertinya ada perubah­an. Pertama, Mangku Pastika lama di luar Bali, tentu ia bisa melihat perma­sa­lahan Bali lebih jernih tanpa kena virus perpecahan. Kedua, sampai saat ini, secara resmi Mangku Pastika masih seba­gai anggota Sabha Walaka PHDI Pusat yang tentu harus meng­ayomi dan berpihak ke Parisada Provinsi Bali. Ketiga, tak mungkin inte­lek­tual tangguh seperti Mangku Pastika akan mengenang dan mencontoh Majapahit pada era sandhyakala. Keempat, janji Mang­ku Pastika saat kampanye adalah memberantas kemiskinan dan menumbuhkan lapangan kerja, tentu ini berarti tidak akan mem­beri kesempatan seluas-luasnya kepada pendatang untuk “men­da­patkan pekerjaan” di Bali.

Kita tak tahu, apa yang akan terjadi di Bali, apakah ada per­ubah­an atau tidak. Apakah Bali akan menjadi “majapahit kedua” di mana penduduknya akan mudah pindah agama, dan menjadikan kom­posisi penduduk Bali semakin heterogen. Atau pemeluk Hin­du masih dipertahankan sebagai mayoritas dan Bali masih menja­di pulau seribu pura?

Selengkapnya

Free Blog Content